Senin, 24 Agustus 2009

SYIRIK KHAFI (SYIRIK YANG SAMAR)

Syirik khafi misalnya seseorang melakukan shalat lalu ia memperbagus shalatnya manakala ia sedang dilihat oleh orang lain. Nabi shalallahu alaihi wa sallam karena sangat cinta kepada ummatnya beliau memperingatkan mereka dari syirik khafi ini (1), sebab tidak lepas darinya kecuali orang-orang yang hatinya dengan cahaya tauhid dan keikhlasan. Syirik khafi sering dikenal dengan riya’, seperti juga orang yang memberi sesuatu agar disebut dermawan dan murah hati maka ini juga termasuk riya’. Di dalam hadits disebutkan, “Siapa yang shalat karena riya’ maka dia telah syirik, siapa yang berpuasa karena riya’ maka ia telah syirik, dan siapa yang bersedekah karena riya’ maka ia telah syirik. “(2) yaitu syirik khafi dan ia lebih besar dosanya daripada dosa besar (kabaair).

Barangsiapa yang menginginkan dunia dan perhiasannya dengan amal perbuatan yang dia lakukan maka wajib baginya agar mengikhlaskan diri kepada Allah. Amal perbuatan untuk mencari dunia misalnya berjihad agar disebut sebagai pemberani (3), atau agar dapat memperoleh harta, atau karena wanita yang melihat kepadanya. Maka ini semua masuk dalam kategori riya’.

Qotadah berkata, “Barangsiapa yang ia inginkan, ia cari, dan ia niatkan adalah dunia, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan-kebaikan di dunia.” Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (4)

Ketaatan itu hanya kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, barangsiapa taat kepada ulama dalam mengharamkan yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya, maka berarti ia telah menjadikan ulama itu sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan ini mirip yang dilakukan yahudi dan nasrani. Allah subhanahu wata’ala berfirman “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.”5

‘Adiy bin Hatim berkata kepada Rasulullah salallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.” Maka Nabi salallahu alaihi wasallam bersabda “Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu kalian ikut mengharamkannya, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang di haramkan Allah lalu kalian ikut mengharamkannya? Adiy menjawab, “Ya.” Maka Nabi bersabda. “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.”(6)


Footnote :
(1) Isyarat dari hadits Abu Sa’id al-khudri ra dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah dalam sunannya dan Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/30, Ibnu Majah dalam sunan “Kitabuz Zuhd” bab no.21 dengan judul “Bab riya’ dan sum’ah,” hadits no.4204. Penta’liq Kitab Sunan Ibnu Majah berkata dalam az-Zawaid, “Isnadnya hasan, sedangkan Katsir bin Zaid dan Rabi’ bin Abdur Rahman masih diperselisihkan (selesai).
(2) Imam Ahmad dalam al-Musnad 4/125-126 dan itu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit ra dengan sanad hasan serta adanya banyak syahid (penguat).
(3) Isyarat pada hadits Abu Musa al-Asy’ari ra riwayat al-Bukhari no.7458 “Kitab at-Tauhid” bab no.28 dengan judul bab “Firman Allah Ta’ala, “Dan sesungguhnya telah tetap janji kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul” dan al-Hafidz telah mensyarah hadits ini serta mengaitkan dengan hadits lain semakna.
(4) QS Hud ayat 15-16
(5) QS at-Taubah ayat 31

(6) Hadits Adi bin Hatim ra riwayat Ahmad dalam Musnad 4/267 dan 378 dengan teks yang panjang dan sanadnya hasan, riwayat at-Tirmidzi dalam al-Jami’ no.3095 “Kitabut Tafsir” dengan sanad lain yang dhaif yutahammal dha’fuhu, disebutkan pula oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya 3/385 terbitan al-Andalus, dikuatkan oleh Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, Ibnu jarir, ath-Thabarani dalam tafsirnya dari banyak jalur dari Adi bin Hatim ath-Thaai ra, lalu beliau menyebutkan hadits secara lengkap. Aku berkata, “Dikuatkan Imam as-Suyuthi dalam ad-Darul Mantsur 4/173 beliau berkata, “Dikeluarkan oleh Ibnu Sa’d dan Abd bin Humaid dan at-Tirmidzi beliau menghasankannya, juga oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Thabrani, Abu Syaikh, Ibnu Mardawaih, dan al-Baihaqi dalam Sunan Kubra dari Adi bin Hatim ra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar